GOLD CHART

GOLD CHART

HARGA DINAR



Thursday, June 2, 2011

Dinar dan Dirham Islam

source : http://endyjkurniawan.com/2009/02/27/dinar-dan-dirham-islam/

By : Muhaimin Iqbal (Presiden Geraidinar)

Banyak orang mengira bahwa Dinar Iraq dan lain sebagainya adalah sama dengan Dinar Islam. Maka perlu saya buat penjelasan yang sangat jelas bahwa Dinar Iraq dan sejenisnya adalah tidak sama dan bukan Dinar Islam. Dinar Iraq adalah uang kertas biasa, sedangkan Dinar Islam adalah uang emas 22 karat 4.25 gram.

Lebih jauh agar kita mengenal Dinar Islam ini lebih dekat, berikut saya petikkan uraian dari buku saya (Mengembalikan Kemakmuran Islam Dengan Dinar dan Dirham) yang menjelaskan detil tentang Dinar Islam.

Islamic Dinar and DirhamUang dalam berbagai bentuknya sebagai alat tukar perdagangan telah dikenal ribuan tahun yang lalu seperti dalam sejarah Mesir kuno sekitar 4000 SM – 2000 SM. Dalam bentuknya yang lebih standar uang emas dan perak diperkenalkan oleh Julius Caesar dari Romawi sekitar tahun 46 SM. Julius Caesar ini pula yang memperkenalkan standar konversi dari uang emas ke uang perak dan sebaliknya dengan perbandingan 12 : 1 untuk perak terhadap emas. Standar Julius Caesar ini berlaku di belahan dunia Eropa selama sekitar 1250 tahun yaitu sampai tahun 1204.

Di belahan dunia lainnya di Dunia Islam, uang emas dan perak yang dikenal dengan Dinar dan Dirham juga digunakan sejak awal Islam baik untuk kegiatan muamalah maupun ibadah seperti zakat dan diyat sampai berakhirnya Kekhalifahan Usmaniah Turki tahun 1924.

Standarisasi berat uang Dinar dan Dirham mengikuti Hadits Rasulullah SAW, ”Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, dan takaran adalah takaran penduduk Madinah” (HR. Abu Daud).

Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 642 Masehi bersamaan dengan pencetakan uang Dirham pertama di Kekhalifahan, standar hubungan berat antara uang emas dan perak dibakukan yaitu berat 7 Dinar sama dengan berat 10 Dirham.

Berat 1 Dinar ini sama dengan 1 mitsqal atau kurang lebih setara dengan berat 72 butir gandum ukuran sedang yang dipotong kedua ujungnya . Dari Dinar-Dinar yang tersimpan di musium setelah ditimbang dengan timbangan yang akurat maka di ketahui bahwa timbangan berat uang 1 Dinar Islam yang diterbitkan pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah 4.25 gram, berat ini sama dengan berat mata uang Byzantium yang disebut Solidos dan mata uang Yunani yang disebut Drachma.

Atas dasar rumusan hubungan berat antara Dinar dan Dirham dan hasil penimbangan Dinar di musium ini, maka dapat pula dihitung berat 1 Dirham adalah 7/10 x 4.25 gram atau sama dengan 2.975 gram .

Sampai pertengahan abad ke 13 baik di negeri Islam maupun di negeri non Islam sejarah menunjukan bahwa mata uang emas yang relatif standar tersebut secara luas digunakan. Hal ini tidak mengherankan karena sejak awal perkembangannya-pun kaum muslimin banyak melakukan perjalanan perdagangan ke negeri yang jauh. Keaneka ragaman mata uang di Eropa kemudian dimulai ketika Republik Florence di Italy pada tahun 1252 mencetak uangnya sendiri yang disebut emas Florin, kemudian diikuti oleh Republik Venesia dengan uangnya yang disebut Ducat.

Pada akhir abad ke 13 tersebut Islam mulai merambah Eropa dengan berdirinya kekalifahan Usmaniyah dan tonggak sejarahnya tercapai pada tahun 1453 ketika Muhammad Al Fatih menaklukkan Konstantinopel dan terjadilah penyatuan dari seluruh kekuasan Kekhalifahan Usmaniyah.

Selama tujuh abad dari abad ke 13 sampai awal abad 20, Dinar dan Dirham adalah mata uang yang paling luas digunakan. Penggunaan Dinar dan Dirham meliputi seluruh wilayah kekuasaan Usmaniyah yang meliputi tiga benua yaitu Eropa bagian selatan dan timur, Afrika bagian utara dan sebagian Asia.

Pada puncak kejayaannya kekuasaan Usmaniyah pada abad 16 dan 17 membentang mulai dari Selat Gibraltar di bagian barat (pada tahun 1553 mencapai pantai Atlantik di Afrika Utara ) sampai sebagian kepulauan nusantara di bagian timur, kemudian dari sebagian Austria, Slovakia dan Ukraine dibagian utara sampai Sudan dan Yemen di bagian selatan. Apabila ditambah dengan masa kejayaan Islam sebelumnya yaitu mulai dari awal kenabian Rasululullah SAW (610) maka secara keseluruhan Dinar dan Dirham adalah mata uang modern yang dipakai paling lama (14 abad) dalam sejarah manusia.

Selain emas dan perak, baik di negeri Islam maupun non Islam juga dikenal uang logam yang dibuat dari tembaga atau perunggu. Dalam fiqih Islam, uang emas dan perak dikenal sebagai alat tukar yang hakiki (thaman haqiqi atau thaman khalqi) sedangkan uang dari tembaga atau perunggu dikenal sebagai fulus dan menjadi alat tukar berdasar kesepakatan atau thaman istilahi. Dari sisi sifatnya yang tidak memiliki nilai intrinsik sebesar nilai tukarnya, fulus ini lebih dekat kepada sifat uang kertas yang kita kenal sampai sekarang .

Dinar dan Dirham memang sudah ada sejak sebelum Islam lahir, karena Dinar (Dinarium) sudah dipakai di Romawi sebelumnya dan Dirham sudah dipakai di Persia. Kita ketahui bahwa apa-apa yang ada sebelum Islam namun setelah turunnya Islam tidak dilarang atau bahkan juga digunakan oleh Rasulullah SAW– maka hal itu menjadi ketetapan (Taqrir) Rasulullah SAW yang berarti menjadi bagian dari ajaran Islam itu sendiri, Dinar dan Dirham masuk kategori ini.

Islamic Dinar & Dirham Produced by Logam Mulia Indonesia – With The Weight & Purity Certification By KAN (Indonesia) an LBMA (UK -London) Di Indonesia di masa ini, Dinar dan Dirham hanya diproduksi oleh Logam Mulia – PT. Aneka Tambang TBK. Saat ini Logam Mulia-lah yang secara teknologi dan penguasaan bahan mampu memproduksi Dinar dan Dirham dengan Kadar dan Berat sesuai dengan Standar Dinar dan Dirham di masa awal-awal Islam.

Standar kadar dan berat inipun tidak hanya di sertifikasi secara nasional oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), tetapi juga oleh lembaga sertifikasi logam mulia internasional yang sangat diakui yaitu London Bullion Market Association (LBMA).

Seperti di awal Islam yang menekankan Dinar dan Dirham pada berat dan kadarnya – bukan pada tulisan atau jumlah/ukuran/bentuk keping – maka berat dan kadar emas untuk Dinar serta berat dan kadar perak untuk Dirham produksi Logam Mulia di Indonesia saat ini memenuhi syarat untuk kita sebut sebagai Dinar dan Dirham Islam zaman sekarang.

Seluruh Dinar dan Dirham yang diperkenalkan & dipasarkan oleh Gerai Dinar adalah produksi langsung dari Logam Mulia – PT. Aneka Tambang, Tbk..

Wednesday, June 1, 2011

sinar dinar tak pernah pudar


Assalamuallaikum Wr Wb
Berikut ini saya postingkan artikel dari http://endyjkurniawan.com/2011/05/25/sinar-dinar-tak-pernah-pudar/
Posted by Endy in Featured, Financial Planning, Investasi, Sejarah & Peradaban

Harian Jurnal Nasional, Jumat, 13 Mei 2011, Sisipan “Syariah” Halaman 2

Nilai uang ini tidak pernah merosot bahkan sejak jaman Nabi

“BILA saat ini memiliki uang tidak terpakai sebesar Rp1.800.000, kira-kira akan dipakai untuk apa dana tersebut? Bagi yang ingin menyelamatkan uang itu , pasti akan memlih untuk menabung ke bank namun apakah menabung di bank benar-benar akan melindungi uang Anda? Coba pikirkan sekali lagi.”

Bila saat ini uang jumlah tersebut dapat dipakai untuk membeli 12 karung beras yang dihargai Rp150.000 setiap karungnya, makan dipastikan dana itu tidak akan bisa membeli beras dengan jumlah karung yang sama tahun depan. Daya beli uang merosot karena setiap tahun terjadi inflasi atau penurunan nilai uang, yang besaran rata-ratanya 10%. Jadi bila tahun ini satu karung beras dibanderol Rp150.000, tahun depan diperkirakan harga tersebut naik menjadi Rp165.000. Dengan uang sebesar Rp1.800.000, maka dana tersebut paling hanya mampu membeli 10 karung beras pada tahun berikutnya.

Di saat inflasi merampok secara diam-diam uang kertas yang dimiliki seseorang, bunga bank per tahun yang rata-rata lima persen juga tidak sanggup mengejar laju inflasi sebesar 10 persen. Selain itu menurut Penasihat Investasi Endy J. Kurniawan, menabung dengan menitipkan sejumlah uang ke bank ternyata mengandung banyak kerugian. Karena sistem dan aturan main tabungan bank justru bisa menggerogoti nilai tabungan.

Setelah krisis moneter 1998, bank-bank di Indonesia menggeser penghasilan utamanya dari bunga ke fee-based income. Dulu bank mengandalkan penghasilan dari bunga atas pinjaman. Kini, selain penghasilan dari bunga, bank juga memaksimalkan pendapatan dari pengelolaan rekening serta jasa transfer yang bisa dikutip langsung dari nasabah.

Selain itu, pada saldo tertentu, bank tidak memberikan bunga kepada nasabah. Saat ini pada banyak bank, jika saldo di bawah Rp1 juta maka bunga nol. Artinya, jika seseorang menyimpan uang sebesar Rp500.000 di bank lalu didiamkan, maka empat tahun kemudian uang tersebut bisa menjadi nol karena setiap bulan bank menentukan biaya administrasi sebesar Rp10.000 sementara tidak ada bagi hasil yang diberikan.

Bila demikian apakah saat ini tidak perlu lagi untuk menabung? Kalau pemikiran seperti itu tentu tidak bisa dibenarkan. Yang betul, carilah cara menabung dan berinvestasi yang membawa untung.

Endy mengatakan, masyarakat harus mulai menyimpan tabungan dalam asset riil yang nilainya terjaga terhadap komoditas lain sekaligus memiliki ketangguhan melawan inflasi. Dewasa ini pilihan investasi dan tabungan begitu beragam.

Namun yang menguntungkan dan tidak merumitkan adalah menabung dalam bentuk Dinar atau koin emas berkadar 22 karat dengan berat 4,25 gram dan juga Dinar atau koin perak murni dengan berat hampir tiga gram (tepatnya 2,975 gr).

Bila uang kertas terus melemah setiap tahun, Dinar dengan bahan emasnya justru kian gagah dan terus mengalami kenaikan hingga rata-rata 25 persen. Jadi bila uang Rp1.800.000 digunakan membeli satu Dinar emas saat ini maka besar kemungkinan tahun depan harga satu Dinar tersebut menjadi Rp2.160.000. Daya beli uang tersebut pun menjadi lebih tinggi atau setidaknya sama dari tahun sebelumnya.

Selain itu Dinar terbukti memiliki nilai yang sama sepanjang tahun. Dalam sebuah riwayat disebutkan, satu keping Dinar pada jaman Rasulullah SAW bisa dipakai untuk membeli seekor kambing. Saat ini premis tersebut masih berlaku meski sudah 1.400 tahun lalu terjadi. Dengan harga Dinar yang saat ini berada di kisaran Rp1.800.000 maka seekor kambing dengan kualitas tinggi dapat dibeli. Karena nilainya yang selalu sama ini, Dinar dan Dinar sering disebut dengan heaven’s currency karena memiliki kemampuan sebagai penakar yang adil.

Dengan keutamaan-keutamaan tersebut maka sudah dipastikan Dinar menjadi investasi abadi sepanjang masa. Bila ada orang yang bernasih seperti Ashabul Kahfi yang ketiduran di gua selama sekitar 309 tahun dan memiliki Dinar, dia tetap dapat membelanjakannya setelah bangun. Hal ini tentu tidak berlaku bila dia menyimpan uang dalam bentu rupiah.

Menurut Endy, Dinar sudah dipastikan menjadi jawaban untuk perencanaan-perencanaan keuangan jangka panjang seperti biaya pernikahan, dana pensiun hingga ongkos naik haji. Dengan kacamata Dinar, segala kebutuhan hidup menjadi kian murah karena Dinar semakin perkasa bila dibandingkan uang kertas yang nilainya terus melorot. Pada 1997 dibutuhkan 97 Dinar (ketika itu harga Dinar Rp94.000) untuk menunaikan haji namun tahun kemarin cukup 22 Dinar (harga Dinar sekitar Rp1.500.000) untuk pergi ke Tanah Suci.

Ini terjadi karena Dinar selalu dalam kondisi bull market atau memiliki kecenderungan tren terus naik. Menurut Endy, tidak ada yang menghalangi harga emas untuk terus melambung tinggi.

“Bisa saja harga satu Dinar akan mencapai Rp10 juta hingga Rp15 juta pada 2020 nanti,” katanya.

Investasi Tak Kenal Kasta

Selain memiliki sejumlah keunggulan tersebut, berinvestasi Dinar dan Dinar juga tak mengenal kasta. Siapa pun bisa memulainya, baik orang tua maupun remaja. Coba bandingkan dengan investasi berupa property baik berupa rumah tinggal, apartemen, ruko atau kavling tanah. Tentu investasi property begitu menggiurkan karena keuntungannya bisa mencapai 15 persen setiap tahun. Namun saat ini tentu akan sulit memulai investasi hanya dengan uang senilai Rp1.800.000.

“Banyak yang mengira untuk memulai menabung emas kita harus kaya, mapan dan harus berpenghasilan besar dulu. Pendapat ini jelas menyesatkan. Menabung emas justru membuat orang yang penghasilannya minim atau biasa-biasa saja menjadi sejahtera di masa depan. Sebaliknya jika tidak mulai menabung Dinar emas, nasib seseorang tidak akan berubah selamanya,” katanya. Namun kuncinya adalah disiplin, berpikir jangka panjang dan selektif atas biaya konsumtif.

Endy juga mengingatkan sebaiknya menghindari menyimpan dalam Dinar dan emas pada umumnya jika dana akan digunakan untuk berbagai keperluan dalam rentang waktu enam bulan.

“Tempatkan ke Dinar, dana yang memang benar-benar tak terpakai dalam enam bulan ke depan.” katanya.